Senin, 09 Juli 2012

Peranan Teknologi Informasi pada Usaha Makanan


Pada era globalisasi sekarang ini teknologi informasi sudah sangat melekat pada diri banyak masyarakat dunia. Teknologi Informasi sediri mulai populer di akhir tahun 70-an. Pada masa sebelumnya istilah teknologi informasi biasa disebut teknologi komputer atau pengolahan data elektornik (elektronik data processing).  Teknologi informasi dan komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Walau begitu namun masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-an. Di sisi lain teknologi informasi telah menjadi fasilitas utama bagi kegiatan berbagai sektor kehidupan dimana memberikan andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar pada struktur operasi dan manajemen organisasi, pendidikan, transportasi, kesehatan dan penelitian. Data atau informasi yang pada jaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik.Tidak berlebihan jika salah satu pakar IBM menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar 1 dolar Amerika !”. Secara mikro, ada hal cukup menarik untuk dipelajari, yaitu bagaimana evolusi perkembangan teknologi informasi yang ada secara signifikan mempengaruhi persaingan antara perusahaan-perusahaan di dunia.Kini seiring dengan perkembangan teknologi informasi maka banyak perusahaan dibidang kuliner juga memanfaatkan TI dalam menjalankan bisnisnya. Usaha kuliner merupakan bisnis yang sangat menjanjikan karena sekarang hampir semua orang malas untuk memasak sendiri dan lebih memilih membeli makanan di restourant ataupun warung makan. E-bisnis,adalah sebuah proses bisnis yang mengembangkan bisnisnya lewat bantuan media web atau internet. Terminologi ini pertama kali dikemukakan oleh Lou Gerstner, CEO dari IBM. Kini para pebisnis kulinerpun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengandalkan IT dan E-bisnis dalam menjalankan dan mengebangkan bisnisnya.
E-Business is about 95% business and 5% technology. Kalimat singkat tersebut pada intinya menegaskan bahwa pertimbangan utama yang harus dipergunakan oleh para praktisi manajemen dalam menentukan apakah akan memanfaatkan tawaran-tawaran menggiurkan yang dijanjikan oleh e-business terletak pada pertimbangan seberapa besar potensi “bisnis” yang ditawarkan, bukan pada seberapa canggih teknologi yang berkembang.secara jelas e-business harus dapat paling tidak melakukan kedua hal di bawah ini:
1. Seberapa tinggi potensi penambahan revenue (pendapatan) perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung yang didapat pada saat konsep e-business diimplementasikan; dan
2. Seberapa tinggi potensi pengurangan cost (biaya) yang dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung yang didapat pada saat konsep e-business diterapkan.
Kedua hal tersebut adalah hal minimum yang harus di-deliver oleh e-business kepada perusahaan agar dapat secara nyata meningkatkan tingkat profitabilitasnya (sesuai dengan rumus sederhana Profit = Revenue – Cost).
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi banyak digunakan para usahawan tak terkecuali pengusaha di bidang kuliner. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan perubahan pada kebiasaan kerja. Misalnya penerapan ERP . ERP adalah salah satu aplikasi perangkat lunak yang mencakup system manajemen dalam perusahaan.
Banyak cara dilakukan restoran atau rumah makan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas waktu, biaya maupun tenaga, dengan tetap mengedepankan cita rasa khas sebagai unggulannya.Ada beberapa contoh rumah makan yang menggunakan IT sebagai pembantu menjalankan bisnisnya seperti salah satu contohnya adalah Jogja Foodfest (Jogja Foodfest Memanfaatkan Teknologi Informasi Untuk Memuaskan Konsumen, 2009). Food Fest di Jalan Kaliurang km 5,5 Yogyakarta ini lain dengan resto atau rumah makan umumnya. Fajar Handika yang jebolan Teknik Komputer UGM, memilih memadukan information technology (IT) dengan keragaman menu-menu khas yang menjadi unggulan setiap makanan dan minuman yang disajikan. Anda tidak akan menemukan captain order yang dibawakan oleh waitress untuk memilih menu yang Anda sukai karena sang waitress sudah memakai PDA. Di resto yang berlokasi di Jalan Kaliurang ini, konsep pelayanan kepada pelanggan sepenuhnya sudah berbasiskan teknologi. Restoran ini telah menerapakan teknologi FIKS  yang secara sederhana bisa diartikan sebagai sebuah konsep integral antara waitress-kitchen-cashier-backoffice serta realtime. Seluruh layanan Foodfest didukung penerapan IT. Sehingga pelayan restoran pun saat menghampiri pengunjung untuk mencatat pesanan menu bukannya membawa kertas catatan dan pulpen, melainkan membawa PDA. Dengan PDA itulah pelayan mencatat segala pesanan pengunjung. “Sebenarnya bukan kok gaya atau mengikuti trend, tapi memang pekerjaan menjadi lebih efisien dan efektif dari aspek biaya, waktu, dan tenaga. Jadi pelayan di sini minimal juga harus bisa mengoperasikan komputer,” ujar Fajar Handika yang menjadi owner sekaligus General Manager Foodfest yang dirintisnya sejak sekitar 1,5 tahun lalu itu. Beberapa piranti pendukung FIKS antara lain internet server, database server, POS server, order terminal, kitchen monitor, print servers, printers, wireless access points, router, dan PDA. Dengan piranti ini, semua aktivitas di rumah makan ini bisa dimonitor dari mana saja. “Jadi saya bisa mengetahui berapa orang yang sedang makan, siapa saja yang melayani, apa saja pesanannya, dan sebagainya ,” kata Fajar. Memang untuk itu dibutuhkan investasi yang lebih besar. Tapi menurut Fajar, mahal tidaknya investasi untuk perangkat digital tersebut relatif. Sebab, jika dengan sistem manual, konvensional dan tradisional, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sumber daya manusia yang bertambah pada saat restoran ramai, berapa tenaga yang harus dikeluarkan jika pelayan harus naik-turun lantai atas dan bawah melayani tamu dengan mondar-mandir, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mencetak nota pesanan (captain order) yang kemudian hanya dibuang, bagaimana risiko kesalahan membaca jika pesanan hanya ditulis tangan yang berdampak pada turunnya kualitas layanan, bagaimana risiko sistem administrasi keuangan karena menggantungkan cash register saja tentunya tidak cukup, serta beragam pertimbangan lainnya. “Sebenarnya ini bukan konsep terlalu baru karena beberapa restoran di Jakarta dan Singapura banyak yang sudah menggunakan perangkat seperti PDA sebagai gadget waitress ketika mereka menangani pesanan. Haya saja, rata-rata restoran punya satu dapur atau bar sedangkan Foodfest memiliki 11 dapur dan satu bar,” ujar Fajar Handika, General Manager Jogja Foodfezt.
Beberapa peranti yang memegang peranan penting dalam konsep FIKS ini antara lain adalah internet server, database server, POS server, Order Terminal, Kitchen Monitor, Print servers, Printers, Wireless Access Points, Routerm, dan PDA. Internet server berfungsi untuk menghubungkan database server dengan dunia luar. Dengan alat ini, semua aktivitas di rumah makan ini bisa dimonitor melalui VPN (Virtual Private Network) over internet dari mana saja. Artinya si pemilik rumah makan bisa mengetahui berapa orang yang sedang makan, siapa saja waitress yang melayani, apa saja pesanannya, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan pesanan kepada pelanggan.
Elemen penting lainnya adalah router. Peranti ini berfungsi sebagai jantung dari FIKS. Semua perangkat yang menggunakan koneksi kabel tersambung ke router ini. Sementara Wireless Acces Point fungsinya mirip router, tapi nirkabel. Semua PDA dan komputer yang terhubung ke jaringan secara nirkabel akan terhubung ke sini dengan protokol wifi dan diteruskan ke router. Yang tidak kalah pentingnya adalah Database server. Komponen ini berupa sebuah komputer server yang berisi semua data transaksi yang terjadi. Segala kegiatan apapun yang berhubungan dengan order akan dicatat di sini. Sementara PDA menjadi bawaan wajib bagi para waitress. Peranti ini digunakan oleh para waitress untuk melakukan input order, melihat ketersediaan menu, maupun status meja. Data pemesanan itu akan disinkronisasi secara realtime dengan database server.
Fajar mengatakan, penggunaan perangkat teknologi dalam bisnis restorannya ini cukup menguntukan dari segi bisnis dan efisiensi. Ketika pemilik restoran mengimplementasikan teknologi digital dengan sistemnya maka mereka akan mendapat beberapa keuntungan seperti efisiensi karyawan, penghematan biaya pembuatan Nota Order, dan meminimalisasi kesalahan pegawai. “Dengan sistem seperti ini, akan ada data penjualan secara detil berdasarkan waktu dan jenis makanan yang terjual. Pemilik resto bisa menganalisis berapa jumlah tamu yang datang dalam kurun waktu tertentu, berapa persen penjualan es teh dibanding es jeruk, atau restoran paling ramai dikunjungi jam berapa dan hari apa,” tutur Fajar. Sistem usaha yang digunakan Jogja Foodfest adalah menyediakan tempat makan dan sistem manajemen. Sedangkan pemilik outlet hanya menyiapkan produk makanan dan minumannya. Untuk itu diperlukan seleksi yang ketat agar bisa menempati outlet di sini. ” Selain melayani pengunjung, kami juga melayani para pemilik outlet tersebut. Sistem kita gunakan adalah kontrak selama 4 bulan,  jika produknya bisa dipertahankan kualitasnya, maka akan kita perpanjang lagi. ” Fajar menjelaskan pada bisnis ukm. Dengan mengandalkan keunggulan tempat dan sistem pelayanan, maka banyak outlet yang merasa senang dengan kerjasama ini. Karena selain menguntungkan, transparansi sistem laporan penjualan pun biasanya kita bisa memberikan secara detail. Misalnya outlet A pada bulan Januari penjualannya menurun, kita akan tahu penyebab menurunnya penjualan outlet A. Sehingga kita bisa memberikan saran agar bisa diperbaiki.Dalam memasarkan produknya, Jogja Foodfest lebih menitikberatkan pada pemasaran networking, melalui beberapa jaringan online ataupun offline. ” Kita lebih banyak melakukan kegiatan promosi melalui kerjasama dengan berbagai media di Jogja. Dan selain itu juga kita lebih menitikberatkan pada kepuasan pelanggan, sehingga pelanggan akan mempromosikan sendiri ke teman ataupun kerabat dekatnya ” ujar Fajar. Memang seringkali Jogja Foodfest ditayangkan pada beberapa media cetak dan televisi di Jogja. Dan Jogja Foodfest juga sering didatangi oleh para artis – artis Ibukota, seperti : Jajang C Noer, Nurul, Sutradara. Jika pada hari libur atau malam minggu Jogja Foodfest akan terasa ramai dengan jumlah pengunjung bisa mencapai 200 – 300 orang per hari. Namun pada hari – hari biasa jumlah pengunjung hanya 100 – 150 orang. Jogja Foodfest inilah salah satu contoh diantara banyak restaurant lain yang menggunakan IT untuk mendukung kinerja dan memanjakan konsumennya.
Jika dilihat berdasarkan teorinya Erik, teknologi informasi mempunyai peranan penting bagi perusahaan dalam melakukan inovasi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, perusahaan tidak hanya dapat mengontrol dan melakukan inovasi, bahkan dapat menekan biaya yang akan dikeluarkan perusahaan dalam mengukur, bereksperimen, berbagi dan mereplikasi informasi pada proses bisnisnya dalam jangka panjang. Seperti pada penggunaan teknologi informasi yang digunakan oleh perusahaan perbankan, mempunyai kontribusi yang cukup besar bagi produktivitasnya, terutama dalam meningkatkan pelayanan. ATM 24 jam yang tersedia, memudahkan pelanggan dalam melakukan transaksi atau mengambil uang kapanpun dan dimanapun tanpa harus datang langsung dan menunggu antrian di bank.
Dalam artikelnya, Erik menggunakan CVS (perusahaan ritel obat-obatan di US) sebagai salah satu contoh perusahaan yang menggunakan teknologi replikasi. CVS menerapkan peningkatan proses bisnis pemesanan resep obat di salah satu apotek, dimana hasilnya meningkatkan kepuasan pelanggan secara signifikan. Proses bisnis tersebut dikembangkan dengan menggunakan sistem teknologi informasi, dan kemudian direplikasi ke 4,000 apotek lain di 4,000 toko CVS lainnya dalam setahun. Perusahaan – perusahaan manufaktur dan perbankan juga menggunakan teknologi informasi khususnya replikasi pada proses bisnisnya. Pepsi Cola, salah satu perusahaan manufaktur makanan dan minuman, telah menggunakan teknologi informasi pada proses bisnisnya. Teknologi informasi dimanfaatkan untuk meningkatkan proses produksi dari produk-produknya. Sehingga output produksi yang telah direplikasi meningkat sebesar dua atau bahkan sepuluh kali lipat jika dibandingkan tanpa menggunakan teknologi informasi. Perusahaan perbankan yang menggunakan sistem aplikasi transaksi juga mereplikasi informasi secara terintegrasi. Teknologi informasi yang telah dikembangkan memungkinkan perusahaan melakukan otomatisasi replikasi hanya dengan melakukan input data. Penggunaan jaringan LAN dan aplikasi yang berbasis web memungkinkan perusahaan mereplikasi informasinya ke lokasi lain. Sehingga dengan adanya teknologi informasi ini, efisiensi waktu, tenaga dan biaya dapat lebih di optimalkan.
Selain teori yang disampaikan oleh Erik, ada beberapa cara yang dapat dipergunakan perusahaan dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai tujuan bisnisnya. Pada artikel yang berjudul “Building Strategic Advantage Through IT”, Daniel W. Rasmus mengutarakan bahwa ada delapan cara untuk mencapai keunggulan strategis dan kompetitif dengan menggunakan teknologi informasi.
a. Process Automation. Proses otomatisasi ini bertujuan untuk menghilangkan biaya dan menciptakan data yang memberikan wawasan ke dalam struktur biaya dan proses bisnis.
b.Collaboration and Unified Communications Technology. Menghubungkan organisasi secara virtual, sehingga dapat mendorong inovasi, menjaga hubungan, dan mengeksekusi pada perbaikan operasional yang menghasilkan peningkatan produktivitas. Komunikasi terpadu menciptakan infrastruktur komunikasi tunggal, mengurangi biaya untuk peningkatan Private Branch Exchange (PBX) sambil menyediakan pekerja informasi dengan peningkatan produktivitas melalui inbox terpadu dan aturan yang membantu mereka dalam mengelola interupsi.
c. Security for the Extended Enterprise. Teknologi keamanan diperlukan untuk menjaga properti intelektual dan rahasia dagang perusahaan secara aman dan untuk menyimpan informasi pribadi tentang karyawan dan pelanggan.
d. Virtualization. Virtualisasi mengurangi biaya untuk hardware, meningkatkan pengujian dan penyebaran perangkat lunak, mengurangi penggunaan energi, ruang dan waktu, dan meningkatkan fleksibilitas investasi perangkat keras (hardware).
e. Managed Mobility. Pengelolaan mobilitas berhasil mendorong data-data kebijakan pemerintahan ke dalam jaringan tanpa secara signifikan mempengaruhi kinerja perangkat-perangkatnya untuk telepon atau kolaborasi.
f. Document Management Styles. Sentralisasi konten dari repositori diperlukan agar terjadi keseragaman dalam menyediakan informasi.
g. Business Intelligence and Analytics. memahami kinerja bisnis, proses bisnis, pelanggan, pasar, dan karyawan merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan wawasan dari data atau informasi.
h. Business Performance Infrastructure. Mengadopsi platform melalui kolaborasi, komunikasi, analisis, dan sistem perusahaan dimana semuanya berkomunikasi untuk menciptakan bisnis yang lebih terintegrasi, responsif, dan tangkas.
Keterbatasan teknologi informasi yang dimiliki perusahaan harus segera diatasi. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara berkesinambungan agar informasi dapat diolah dan dikembangkan secara up to date. Pada umumnya ada beberapa hal yang menjadi kendala bagi perusahaan dalam mengoptimalkan aset teknologi informasinya. Berikut beberapa diantaranya :
A. Keterbatasan Biaya. Keterbatasan biaya menjadi kendala bagi perusahaan dalam melakukan inovasi teknologi informasinya. Karena memang tidak bisa dipungkiri dalam melakukan inovasi teknologi informasi berikut perawatannya (maintenance) membutuhkan biaya yang cukup besar. Sehingga sebagian perusahaan lebih memilih memanfaatkan teknologi informasi yang sudah ada atau bahkan melakukannya secara manual. Hal ini bisa dilihat salah satunya dari aplikasi transaksi atau akuntansi yang digunakan oleh perusahaan. Dimana sebagian perusahaan masih dan lebih memilih menggunakan aplikasi Microsoft Excel yang merupakan aplikasi bawaaan dari Microsoft Office dibanding menggunakan software akuntansi seperti SAP yang tergolong cukup mahal.
B. Keterbatasan SDM. Inovasi teknologi informasi perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusianya. Keterbatasan SDM menjadi kendala bagi perusahaan dalam merealiasikan inovasi teknologinya. Karena tidak semua SDM berkompeten di bidang teknologi informasi, Oleh karena itu diperlukan adanya pelatihan, training atau bahkan perekrutan SDM yang lebih berkualitas untuk dapat mempelajari inovasi teknologi yang telah dikembangkan oleh perusahaan. Dan itu bukan merupakan hal yang mudah, dan tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar.
C. Revolusi Budaya. Kesadaran pentingnya teknologi informasi patut menjadi perhatian untuk menggeser budaya perusahaan yang konvensional. Keraguan perusahaan akan peran teknologi informasi menimbulkan pemikiran-pemikiran akan adanya keterbatasan biaya dan SDM dalam mengelola teknologi informasi. Karena pada dasarnya keterbatasan biaya dan SDM bisa diatasi jika perusahaan yakin investasinya di teknologi informasi bisa memberikan hasil yang cukup signifikan terhadap performa bisnisnya.
Kehadiran teknologi informasi, mempunyai peranan yang cukup penting di dalam dunia bisnis. Perusahaan makanan dan perusahaan lainpun dapat meningkatkan proses bisnisnya secara signifikan. Karena segala aktivitas perusahaan dapat dikontrol jika perusahaan dapat memanfaatkan dan mengembangkan teknologi informasi dengan baik. Kebutuhan perusahaan akan teknologi informasi, semakin berkembang dan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang harus segera diatasi. Karena setiap perusahaan mempunyai proses bisnis yang berbeda-beda, sehingga proposi penggunaan teknologinya pun berbeda-beda. Hal ini dapat diatasi setelah segala permasalahan dan kebutuhan perusahaan dapat teridentifikasi dengan baik. Karena pada dasarnya teknologi informasi bersifat fleksibel, dalam arti teknologi informasi dapat di desain sedemikian rupa untuk menangani segala permasalahan dan kebutuhan perusahaan.
Kesadaran akan pentingnya teknologi informasi juga merupakan suatu hal yang harus diperhatikan. Revolusi inovasi diperlukan untuk menggeser cara pandang perusahaan yang tradisional. Pesatnya laju pertumbuhan kebutuhan dan permasalahan bisnis, harus segera ditangani agar perusahaan dapat menjaga dan meningkatkan performa bisnisnya. Karena pada kenyataannya, masih ada perusahaan yang kurang atau bahkan tidak yakin akan manfaat teknologi informasi. Sehingga tidak berani ambil resiko dalam berinvestasi untuk memanfaatkan, meningkatkan dan mengembangkan teknologi informasi untuk proses bisnisnya.

DAFTAR PUSTAKA
Alex. (2012, mei 29). "Sumsel free WiFi, Jakarta menyusul". Dipetik juni 27, 2012, dari Antara News: http://www.antaranews.com/berita/313106/alex--sumsel-free-wifi-jakarta-menyusul
AMPUNT_LAY.BLOGSPOT.COM. (2012, Maret 26). MANFAAT KOMPUTER DI BIDANG INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN . Dipetik juni 25, 2012, dari Me Myself and I: http://amrulhamzah.blogspot.com/2012/03/manfaat-komputer-di-bidang-industri.html
fathoni, q. (2011, Januari). Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-Hari. Dipetik Juni 25, 2012, dari Qiqi Fathioni's Zone: http://qiqifathoni.blogspot.com/2011/01/peranan-teknologi-informasi-dan.html
Indonesia Tempati Peringkat ke-46 dalam Kemajuan Teknologi. (2012, juni 27). Dipetik juni 28, 2012, dari Yahoo: http://id.berita.yahoo.com/indonesia-tempati-peringkat-ke-46-dalam-kemajuan-teknologi-034403400.html
Jogja Foodfest Memanfaatkan Teknologi Informasi Untuk Memuaskan Konsumen. (2009, Januari 11). Dipetik juni 25, 2012, dari Bisnis UKM: http://bisnisukm.com/jogja-foodfest-memanfaatkan-teknologi-informasi-untuk-memuaskan-konsumen.html
mayang, n. (2012, Januari 4). Manfaat Teknologi Informasi Bagi Seorang Akuntan. Dipetik Juni 25, 2012, dari Nurika Mayang: http://nurikamayang.blogspot.com/2012/01/manfaat-teknologi-informasi-bagi.html
Pratami, D. (2010, November 14). Keunggulan Teknologi Informasi dalam Perusahaan dan Lingkungannya. Dipetik juni 25, 2012, dari Dewipratami's Blog: http://dewipratami.wordpress.com/2010/11/14/keunggulan-teknologi-informasi-dalam-perusahaan-dan-lingkungannya/
Sukartya, A. (2011, november 29). REVOLUSI INOVASI GLOBAL DAN PERAN TEKNOLOGI INFORMASI. Dipetik juni 25, 2012, dari ADI SUKARTYA: http://adi39e.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2011/11/29/revolusi-inovasi-global-dan-peran-teknologi-informasi/


http://www.4shared.com/file/gdJLV2xu/peranan_teknologi_informasi_pa.html?

by : Fella Novita Aryanti 1030111120009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar